Resensi Penuh Makna: Lathifah Menggali Kesedihan dalam Karya Boy Chandra

Tema yang diangkat pada novel Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini adalah rasa kehilangan, kesepian, dan kerinduan. Dengan kedua tokohnya yaitu Pak Tua dan Bendung yang sama-sama merindukan sosok ibu, setelah sedari kecil kedua ibu mereka meninggal dunia.
Penokohan pada novel ini tergambar melalui watak Pak Tua yang peduli terhadap sesama, bertanggung jawab, dan memiliki empati tinggi. Hal ini terlihat ketika Pak Tua tak sengaja menabrak seorang anak laki-laki ia menawarkan anak tersebut untuk berobat. Ketika menemukan sebuah buku bersampul hitam yang tergeletak tak jauh dari insiden kecelakaan itupun ia berusaha untuk mengembalikan ke pemilik buku tersebut.
Sifat empati yang tinggi tersurat Ketika Pak Tua juga merasakan perasaan yang sama dengan pemilik buku. Setelah membaca semua isi buku bersampul hitam tersebut ternyata keduanya memiliki perasaan yang sama, yaitu merindukan sosok ibu.
Penggambaran watak tokoh Bendung diceritakan secara tersurat. Bendung sebagai sosok yang rapuh, namun tetap berusaha untuk tegar. Batin Bendung memang terluka. Penggambaran gejolak emosi batin sangat terlihat jelas dalam novel ini. Berikut contoh kutipan, “ Bu, tidak ada temanku menangis malam ini. Aku menenangkan air mataku sendirian. Aku mengusap dadaku sendirian. Aku menguatkan lagi diriku sendirian. Aku sering bicara pada diriku sendiri, lalu aku dan diriku mengenangmu untuk menguatkan diri di bumi ini” (Boy Candra, 2023:112). Sosok Bendung berusaha tegar berusaha menenangkan dirinya sendiri ketika ia menangis.
Tokoh Istri Pak Tua dan Serani digambarkan sebagai sosok pendukung yang menghangatkan suasana keluarga. Istri Pak Tua yang lemah lembut dan keibuan serta Serani sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
Novel Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam Ini menggunakan alur campuran. Pada awal cerita menggunakan alur maju, yaitu Pak Tua yang menjalani kehidupan sehari-harinya. Sedangkan pada chapter ke empat terjadi alur mundur karena terdapat catatan yang mengajak pembaca untuk masuk ke dalam perasaan Bendung setelah ia kehilangan ibunya.
Novel ini menggunakan gaya bahasa yang puitis dan penuh makna kias untuk menggambarkan perasaan tokohnya. Penggunaan majas juga terlihat dalam novel ini seperti, “Ia selalu membuka diri membersihkan duri-duri yang menusuk punggung Bapak” (Boy Candra, 2023:75). Kata “duri-duri” menggambarkan beban serta penderitaan hidup.
Novel ini penuh dengan nilai-nilai kehidupan di dalamnya. Sifat peduli, tanggung jawab, dan tak mudah putus asa. Seperti Pak Tua yang tetap berusaha untuk mengmbalikan buku bersampul hitam kepada pemiliknya. Begitu pula dengan sosok Bendung yang selalu tegar menghadapi segala rintangan yang dialami dalam hidupnya.
by LATHIFAH UMI SANTIKA
Siswa SMA N 1 Samigaluh
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah